Home / Kakak Harus Tahu / Kak Teguh “Sang Pelopor”

Kak Teguh “Sang Pelopor”

Pada Peringatan Hari Pramuka ke 60 Tahun 2021, Gerakan Pramuka memberikan kehormatan terhadap tokoh-tokoh pramuka yang telah berpulang ke rahmatullah atas jasanya didunia kepanduan Gerakan Pramuka, khususnya di Provinsi Lampung yang berjuluk  “Sang Bumi Ruwa Jurai” ini, tak banyak yang mengenalnya. Apalagi generasi Pramuka milenial, terhadap tokoh yang satu ini. Beliau adalah Kak Drs. Teguh Suwito, Kak Teguh lahir di Jember, Jawa Timur 18 Juni 1951. Penulis berkesempatan menjadi peserta didik dan mendapatkan pembinaan langsung oleh beliau tahun 1983 s.d. 1986 pada usia penggalang. Dan berlanjut tahun 1986 s.d. 1989 menjadi seorang Pramuka penegak di Gudep yang sama yaitu Gudep A.119-120 SMP Negeri 5 Kotabumi.

Menjadi Komandan Kompi (Danki) Transmigrasi Pramuka Pertama Indonesia asal Jawa Timur mula Kak Teguh berangkat menuju Provinsi Lampung tahun 1972. Diberangkatkan oleh Presiden Suharto pada waktu itu dengan rombongan Penegak dan Pandega sebanyak 100 orang. Dilepas di Pelabuhan Merak Banten mereka ditempatkan di daerah Transmigrasi di Desa Mulyo Asri, Way Abung Lampung Utara. Sekarang menjadi wilayah Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Tepukan pundak oleh Pak Harto kepada Pemuda yang kala itu masih berusia 20 tahun memberikan semangat untuk berhasil ditanah perantauan “ Guh Jadikan Desamu Menjadi Jakarta Kedua” ucap Pak Harto pada waktu itu melepas keberangkatan ke Provinsi Lampung, Ucapan tersebut memberikan semangat Kak Teguh untuk memimpin Penegak dan Pandega membangun desa transmigrasi kelak. Sesampai ditempat transmigrasi, Kak Teguh dan rombongan terkejut karena lokasi yang mereka tempati masih berupa hutan rimba yang baru ditebang pohonnya, kayu sebesar-besar drum masih melintang disana sini di areal tanah yang akan mereka garap. Ditambah masih seringnya binatang-binatang buas yang melintas diareal peladangan mereka. Selama 2 minggu mereka tidak berbuat apa-apa, dikarenakan bingung harus berbuat apa. Kak Teguh dan rombongannya bukan berasal dari keluarga petani dan belum pernah memegang alat pertanian seperti cangkul, arit, kampak, dan lain sebagainya. Tangan mereka melepuh akibat belum terbiasa memegang cangkul dan alat-alat pertanian lainnya. Terlebih Kak Teguh tamatan SMEA Jurusan Tata Buku dan tidak paham dunia pertanian. Situasi tersebut ditambah dengan fasilitas dari pemerintah yang minim, untuk perumahan saja Kak Teguh dan Penegak Pandega yang lain selama 6 bulan masing tinggal ditenda-tenda yang mereka buat.

Ditengah-tengah situasi tersebut Teguh muda sebagai pimpinan rombongan harus memberikan motivasi kepada rekan-rekan Penegak Pandega lainnya, untuk bisa bertahan hidup. Dari 100 orang yang berangkat transmigrasi hanya tersisa 20 orang meneruskan transmigrasi, sisanya pulang kembali ke Jawa. Ucap Kak Teguh disaat latihan Pramuka Gudep A 119-120 pada waktu itu.

Tahun-tahun awal penuh kesulitan mereka jalani dengan beserja keras. Para Penegak dan Pandega yang tersisa bertekad menjadikan desanya maju, anak-anak muda yang datang dari kota kini sudah berubah menjadi petani yang ulet dan tangguh. Sampai akhirnya Desa Mulyo Asri menjadi maju dengan Kak Teguh Suwito menjadi Kepala Desa termuda setanah air dalam usia baru 25 Tahun.

Menjadi petani Kak Teguh berkesempatan mengikuti Program Pertukaran Pemuda Tani Internasional Kak Teguh mewakili Indonesia berangkat menimba ilmu pertanian selama 3 bulan di Prancis, Belgia dan Belanda. Terpilihnya, Kak Teguh mewakili pertukaran pemuda tani mewakili Indonesia tak terlepas dari karyanya membangun saluran irigasi dengan memanfaatkan potongan drum sepanjang 3 km untuk mengaliri air sawah. Pada tahun 1982 – 1987 dan berlanjut pada tahun 1987 – 1992 Kak Teguh terpilih menjadi anggota DPRD Lampung Utara mewakili generasi muda selama 2 periode. Selain tugasnya sehari-hari sebagai Pegawai Negeri Sipil pada Dinas PU Lampung Utara dan Andalan Pramuka pada Kwarcab Lampung Utara. “ Wong… aku… eeee..” dengan Logat Jawa Timuran yang kental ucap Kak Teguh disela-sela memberikan motivasi kepada Penegak disaat latihan  Pramuka. Untuk memberikan semangat kepada Penegak agar diusia muda berprestasi dan berkarya disemua sektor kehidupan yang digelutinya.

Dikenal sebagai sosok yang humoris Kak Teguh disukai Pembina-Pembina dan peserta didik “pokoknya kalau ada Kak Teguh pasti rame” kata Kakak Pembina lainnya mengomentari sosok Kak Teguh. Pernah suatu hari disaat perkemahan Kak Teguh menceritakan penglaman apelnya terhadap gadis pujaannya yang dia suka, gadis tersebut berasal dari Pribumi Lampung yang beralamat di desa tetangganya. Sekitar tahun 1970 an rumah-rumah masih berbentuk rumah panggung. Pada masa itu seorang pemuda yang ingin ngapel (nganjang istilah Lampung) masih dibawah rumah panggung sementara sang gadis berada didalam rumahnya. Tidak ada tatap muka secara langsung mendengarkan suaranya saja jadilah ucap Kak Teguh sambil ‘terkekeh’. Biasanya acara Nganjang Gadis dilakukan pada malam hari dimulai dengan menyalakan korek api tanda ada pemuda yang mengunjungi gadis yang ditaksir. Karena Kak Teguh baru pertama kali mengapel dan tidak tahu situasi  rumah gadis tersebut, akibatnya Kak Teguh kakinya tercebur air kubangan pencucian dibelakang rumah panggung. Dengan tingkah yang lucu Kak Teguh berkata “kacau beliau” plesetan dari kata “Kacau Balau” apel pertamaku gagal. Kami yang mendengar pengalaman Kak Teguh tertawa terbahak-bahak mendengar cerita lucu itu.

Menjadi seorang Pembina Pramuka Kak Teguh tidak pernah mengajarkan lagu-lagu Pramuka yang tidak memiliki manfaat atau berkonotasi senonoh, Kak Teguh seorang Pembina yang kreatif dan pisioner jauh kedepan. Kak Teguh ingin peserta didiknya memiliki bekal keterampilan dan berprestasi dalam segala bidang yang digelutinya, pada saat usia Penegak kami  diikut sertakan pada kursus-kursus ketrampilan. Pada waktu kegiatan  keluar daerah, Kak Teguh cukup memberikan arahan tentang rute, biayanya, dan perlengkapan saja, selebihnya Kak Teguh hanya berucap Kakak tunggu di lokasi siap!!!… Siap!!!… Ucap kami serentak.

Awal tahun 1990 an Kak Teguh ditugaskan oleh instansinya Dinas PU untuk membantu Pembangunan Lampung Barat  yang beribukota di Liwa. Pada waktu itu Lampung Barat baru pecah dari Kabupaten Induknya  Lampung Utara, serta sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan. Tahun itu pula penulis melanjutkan Pendidikan di Bandar Lampung Interaksi dengan Kak Teguh semakin berkurang. Pada akhir tahun 1993 Kabupaten Lampung Barat mengalami gempa berskala besar. Banyak rumah dan korban jiwa yang berjatuhan dimana-mana. Penderitaan masyarakat Lampung Barat yang baru saja berdiri membuat segala instansi dan lembaga dikerahkan untuk membantu penangan Gempa Liwa, Kak Teguh yang kala itu bertugas disana tanpa kenal lelah siang dan malam membantu penangan Gempa Bumi.

Namun Alloh berkehendak lain, pada saat Gempa Liwa itulah Kak Teguh Menghembuskan Napas Terakhir, beliau meninggal dunia akibat kelelahan yang dideritanya pada saat membantu penangan gempa liwa. Beliau meninggal dunia pada malam hari tanggal 22 Februari 1994 meninggalkan Istri, 5 orang putri, dan 2 orang putra yang masih kecil termasuk sibungsu yang berumur 5 bulan dalam kandungan.

Selamat jalan Kak Teguh…..

Selamat jalan Sang Pelopor…..

Kakak, guru dan orang tua yang sudah memberikan teladan kehidupan…..

Kami bersaksi engkau orang baik…..

Engkau amalkan Trisatya dan Dasa Dharma Pramuka, dengan segenap jiwa dan ragamu…..

Kami menyayangimu Kak Teguh…..

Alloh lebih sayang padamu wahai kakakku…..

Hanya Do’a  yang bisa kami kirimkan untukmu…..

Biarlah Alloh yang mencatat dan membalas kebaikanmu…..

*****

Diceritakan oleh  :   Adhi Mulyanta

Purna Bakti Gudep A.119-120 SMPN 5/7 Kotabumi

Purna Racana Unila

Bendahara Kwarcab Lampung Utara

About pramuka lampung

Check Also

Optimisme Tanpa Batas: Binamuda Kwarda Lampung Gelar Rapat Bidang dan Halal Bihalal Menuju Jamnas XII 2026

Bandar Lampung – Momentum bulan Syawal dimanfaatkan jajaran Bidang Binamuda Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Lampung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 + 4 =


 

%d blogger menyukai ini: